ds

Minggu, 25 Mei 2014

SOP ??? is It running well ?? Perhaps :o



Assalamualaikum.. pada kesempatan ini Enesbe bakalan membahas mengenai SOP. Banyak sekali kasus yang menyelimuti di balik adanya SOP. Terkadang SOP hanya dibuat tetapi di salahgunakan, bahkan ada yang memang tidak ada kejelasan mengenai adanya SOP. Nah, sebelum ke contoh kasus, Enesbe memberi pengertian SOP secara umum, just check it guys !!!!
Prosedur operasi standar (Bahasa Inggris: standard operating procedure, SOP) atau kadang disingkat POS, adalah suatu set instruksi yang memiliki kekuatan sebagai suatu petunjuk atau direktif. Hal ini mencakup hal-hal dari operasi yang memiliki suatu prosedur pasti atau terstandardisasi, tanpa kehilangan keefektifannya. Setiap sistem manajemen kualitas yang baik selalu didasari oleh POS.
Nah, saatnya contoh kasus, ini dari koran-sindo.com, MAKASSAR – Pemprov Sulsel akan menurunkan tim untuk melakukan investigasi, terhadap dugaan pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) di RS Khusus Daerah atau RS Dadi hingga mengakibatkan dua pasien tewas dicekik pasien lainnya.

              Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel A Muallim yang dikonfirmasi mengaku, tim ini untuk memastikan ada tidaknya pelanggaran yang dilakukan pihak RS terkait tewasnya dua pasien tersebut. Kendati demikian, kata dia, hingga kemarin, pihak RS Dadi belum melaporkan secara resmi kasus yang sekarang telah ditangani aparat kepolisian itu. ”Belum ada laporannya yang masuk sekarang. Kalau sudah ada, baru kita lakukan penelusuran di sana,” katanya kepada KORAN SINDO saat dihubungi kemarin.

               Lebih jauh, Muallim menolak berkomentar terkait insiden yang terjadi di RS Dadi. “Saya belum bisa komentar banyak. Kita tunggu laporannya dulu,” ujarnya. Diberitakan, dua saudara kembar Hasan, 16, dan Husain, 16, warga Dusun Pucue, Pao-pao, Kecamatan Taneterilau, Kab Barru, tewas dicekik di Ruang UGD RS Dadi, Sabtu (14/4) lalu. Hasan dan Husain ditemukan tewas tergetak tak bernyawa di Ruang UGD RS Dadi, dengan leher yang penuh luka memar, serta wajahnya ditutupi bantal dan kain.

               Keduanya diduga tewas dicekik oleh pasien lainnya bernama Daniel Layar, 39, warga asal Madando Kec Makale Kab Tana Toraja (Tator). Sementara itu, penyidik Polsekta Mamajang hingga siang kemarin telah memeriksa delapan orang saksi, dari dokter jaga dan perawat di RS yang khusus menampung pasien gangguan jiwa itu.

             Dalam pemeriksaan yang dilakukan kemarin, polisi mengambil keterangan dokter jaga dan perawat yang menerima dua korban serta pelaku saat pertamakali masuk di RS pada Jumat (13/4). ”Sudah delapan saksi kita mintai keterangannya. Rencananya besok (hari ini), kita panggil Kepala Dokter UGD untuk mengetahui SOP yang diterapkan di sana,” kata Kapolsekta Mamajang AKP Agus Chaerul.

             Selain dari pihak RS, polisi juga akan memintai keterangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulsel, sebagai saksi ahli dalam kasus tewasnya dua pasien itu. Mantan Kanit Reskrim Polsekta Biringkanaya ini menambahkan, sampai saat ini pihaknya belum menemukan bukti kuat yang mengarah pada pelanggaran SOP. ”Masih dugaan. Belum ada bukti-bukti kuat yang mengarah. Makanya kita masih melakukan serangkaian pemeriksaan,” tandasnya.

Dugaan adanya pelanggaran SOP tersebut, dikarenakan pelaku bisa membuka ikatan tali di tangan dan kakinya sebelum melukai korban dengan cara mencekik dan menutupi kedua wajah korban dengan bantal serta kain sarung. Apalagi, tindakan pelaku yang mengalami gangguan mental ini ini tak dilihat oleh satu pun perawat, sehingga dinyatakan luput dari wahyudi _pemantauan.
Itu adalah contoh sedikit dari pelanggaran SOP. Enesbe berharap agar SOP di setiap instansi di negara kita ini dapat berjalan sesuai dengan prosedurnya, tidak ada penyalahgunaan, sehingga kenyamanan dapat terwujud serta kejelasan dalam birokrasi di Republik Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar